PRAKTIK PEMBERIAN MAKANAN PADA BAYI DI BOGOR DAN FAKTOR-FAKTOR SOSIAL BUDAYA YANG MEMPENGARUHI

Isi Artikel Utama

Arnelia Arnelia
Sri Muljati

Abstrak

Telah dilakukan penelitian di daerah perkotaan dan pedesaan Ciomas di Kabupaten Bogor, untuk mempelajari praktek pemberian makanan pada bayi serta faktor sosial budaya yang mempengaruhi dengan menggunakan metoda Rapid Assesment Procedures (RAP). Sampel penelitian adalah ibu-ibu yang mempunyai bayi umur (13-18) bulan, kader Posyandu, dukun bayi dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukan bahwa makanan pralaktasi berupa madu dan air putih, biasa diberikan kepada bayi baru lahir di kedua desa. Bayi di daerah perkotaan sudah diberi ASI sejak berusia sehari, sedangkan di pedesaan umumnya pada hari ke empat karena ASI pada tiga hari pertama dianggap kotor dan biasanya dibuang. Pemberian makanan tambahan dimulai pada usia terlalu dini, yaitu rata-rata usia dua minggu di pedesaan dan satu bulan di perkotaan. Sebaliknya pemberian sayuran hijau dan protein hewani umumnya terlambat. Sayuran hijau baru diberikan setelah usia sembilan bulan di perkotaan, dan setelah 18 bulan di pedesaan. Protein hewani umumnya baru mulai diberikan setelah bayi berusia 12 bulan. Bahkan di daerah pedesaan, jenis ikan basah baru diberikan setelah anak berusia tiga tahun.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Arnelia, A., & Muljati, S. (2012). PRAKTIK PEMBERIAN MAKANAN PADA BAYI DI BOGOR DAN FAKTOR-FAKTOR SOSIAL BUDAYA YANG MEMPENGARUHI. Penelitian Gizi Dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research). https://doi.org/10.22435/pgm.v0i0.2276.
Bagian
Artikel